Berawal dari langkanya literatur tentang PEN, maka penulis ingin membagikan informasi kepada adek2 mahasiswa peternakan tentang PEN dan manfaatnya, mungkin ada sebagian yang ingin melakukan penelitian lebih lanjut tentang PEN. Tulisan ini mungkin bisa bermanfaat. Tulisan ini diadopsi dari skripsi irwan azani (2009).
PEN (protein ekstrak nabati) merupakan hasil fermentasi dari bahan nabati seperti kedelai, jagung dan biji kapas. Kandungan protein kasarnya cukup tinggi sehingga bisa menjadi sumber protein dalam penyusunan pakan ternak.
Untuk mengefisiensikan penggunaan konsentrat maka dapat dipergunakan PEN. PEN dapat berfungsi sebagai sumber protein pengganti tepung ikan yang mahal karena kandungan protein kasar cukup tinggi antara 50-55%. Disamping itu PEN dapat meningkatkan efisiensi kecernaan bahan pakan keseluruhan sehingga dapat memacu produksi dan kemampuan reproduksi ternak, khususnya ternak induk betina maupun jantan (Waldron, 2002).
Kedelai mengandung nilai gizi yang cukup tinggi, dimana kandungan protein biji kedelai sekitar 31 persen, sedangkan protein dalam hijauan kedelai 15-20 %. Kandungan protein dari kedelai yang telah diproses jauh lebih tinggi dan lebih mudah dicerna. Hal ini disebabkan kedelai yang tidak dimasak kandungan asam amino sistin sangat rendah (Ensminger dan Olentine, 1978).
Ekstrak jagung terfermentasi (corn steep liquor) memiliki bobot 50% dari bobot keringnya, dimana kadar proteinnya mencapai 25 %. Produk ini biasanya dikombinasikan dengan corn gluten feed atau dijual terpisah sebagai protein cair untuk pakan sapi. Ekstrak jagung terfermentasi memiliki kadar vitamin B dan mineral yang baik. Corn gluten feed adalah medium kaya protein karena mengandung kulit ari jagung dan komposisi serat yang baik. Corn gluten feed kering memiliki kadar protein 21%, lemak 2,5 %, dan serat kasar 8 % (Egarusiani, 2009).
Biji kapas (Gossypium hirsutum) adalah limbah pertanian yang berasal dari perkebunan kapas. Secara tradisional kapas ditanam untuk memperoleh seratnya, yaitu produk yang paling berharga. Di negara penghasil kapas, bijinya diproses lebih lanjut dan diolah menjadi minyak (untuk sabun, cat, dan kosmetik), sedangkan ampasnya masih dapat diolah lagi menjadi tepung biji kapas. Karena mengandung protein yang tinggi (40%), maka ampas (bungkil) biji kapas sangat potensial dipakai sebagai pengganti kedelai dalam campuran pakan ternak (Sutikno, 2000).
Tulisan ini diadopsi dari skripsi irwan azani (2009).
Tampilkan postingan dengan label Peternakan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Peternakan. Tampilkan semua postingan
Jumat, 09 September 2011
Rabu, 24 Agustus 2011
Profil Laboratorium Percobaan Peternakan Unsyiah

Field Lab Peternakan Unsyiah didirikan pada tahun 1997 untuk keperluan mahasiswa praktek dan menimba ilmu lapangan bidang peternakan. Luas area ± 3 Ha, untuk lahan produktif ± 2 Ha, sedangkan untuk perumahan, kandang, dan perkantoran ± 1 Ha. Didalamnya terdapat berbagai jenis ternak (ruminansia dan unggas), hijauan makanan ternak dan peralatan bidang peternakan.
Field Lab Peternakan ini merupakan kebun percobaan milik Universitas Syiah Kuala yang berlokasi di Desa Rukoh Darussalam Banda Aceh. Desa Rukoh mempunyai curah hujan rata-rata 500 - 2000 mm/tahun, dengan temperatur 28 – 33oC, keadaan tanahnya datar, keasaman tanah (pH) antara 4 – 5, dan berada pada ketinggian 200 m dari permukaan laut.
Untuk menjalankan aktivitas Field Lab Peternakan, dibentuklah Usaha Bersama Mandiri (UBM) dengan anggota yang terdiri dari alumni jurusan peternakan, mahasiswa aktif dan peternak sekitar. Kegiatan-kegiatan dari Usaha Bersama Mandiri (UBM) pada waktu itu semakin lama semakin berkembang bahkan sudah dapat memberikan solusi bagi peternak-peternak yang memiliki masalah dalam usaha peternakannya. Dengan suksesnya usaha yang dilakukan oleh UBM dalam meningkatkan anggotanya, maka pada tahun 2001 diadakan suatu rapat yang menghasilkan kesepakatan untuk membentuk sebuah koperasi yang dinamakan Koperasi Agribisnis Mandiri (AGMAN). Koperasi ini dibentuk dengan badan hukum Nomor 370/BH/KDK.1.9/IX/2001, tepatnya pada tanggal 24 September 2001 yang beralamat di jalan Lingkar Kampus, Rukoh, Darussalam Kota Banda Aceh.
Namun pada akhir tahun 2004, aktivitas di Field Lab Peternakan terhenti akibat terkenanya bencana tsunami yang meluluh lantakkan bangunan dan peralatan serta ternak yang ada waktu itu. Saat ini, dengan bantuan JICS Jepang, Field Lab Peternakan telah direhabilitasi dan direkonstruksi kembali, namun materi ternak masih terbatas jumlahnya.
Dikutip dari Laporan Praktek Lapang Irwan Azani, S.Pt
Langganan:
Postingan (Atom)

